Fahd A Rafiq Paparkan Sudut Pandang Untuk Indonesia Makmur 

 

Jakarta – Bapera.or.id – Kita sebagai generasi penerus bangsa Indonesia tidak henti hentinya memberikan saran yang terbaik untuk bangsa dan negeri ini dengan kumpulan narasi yang mencerahkan agar kita generasi penerus paham akan tantangan zaman yang semakin kompleks, Ucap Ketum DPP Bapera di Jakarta, pada Jum’at, (16/9).

 

Fahd El Fouz A Rafiq mengatakan, Saat ini melhat dunia sedang terjadi dua tabrakan besar, antara dua raksasa Tiongkok dan Amerika serta Perang di Eropa yang tak kunjung usai yang berimbas pada ekonomi dunia. Analisa ancaman melihat data, beda beda kemampuannya dan beda strateginya. Kita hanya mengingatkan dan memberi saran ada sisi dibangsa ini yang belum di garap rapih dan masih kusut, tuturnya.

 

Kalau dalam sepakbola Indonesia gaya permainannya itu cari aman bukan  sepakbola offensif, dan itu tercermin pada laga final I piala AFF Indonesia Vs Thailand. Kita menggunakan Formasi 4-2-3-1 dan nyatanya saat Itu Indonesia bermain bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik yang berujung pada kalahnya Timnas dengan skor 4 -0 dan baru bermain menyerang pada leg II dengan skor (2-2).

Jadi, Totalitarian pemahaman ekonomi harus diterapkan bukan hanya totalitarian politik dan kekuasaan, tegasnya.

Mantan Ketum PP AMPG ini menambahkan, buruh atau manusia strata terendah di Indonesia di negara lain mereka bisa hidup seperti sultan ketika tinggal di Indonesia. Ada 5 pemimpin tertinggi setelah 24 tahun masa reformasi. Karya 5 presiden yang menjabat baru memiliki pendapatan perkapita sebesar USD 4300. Jika dihitung pemenuhan akan besi yang hanya 50 KG per orang atau 300 Watt daya listrik per orang alias baru membangun 75.000 Mega Watt listrik.

 

Negara dikatakan makmur adalah pemenuhan pemenuhan kebutuhan besi nasional 1000 KG per orang/tahun dan negara menghasilkan listrik 1000 Watt/orang/tahun. Kalau dihitung dalam kebutuhan besi nasional kita harus membangun kapasitas produksi 20 kali dari kapasitas terpasang sekarang.

 

Power plant harus membangun 4 kali lipat dari sekarang untuk dikatakan Indonesia negara makmur. Kita juga belum menghitung berapa jalur Irigasi yang harus dibangun agar Indonesia mandiri pangan 200%, sehingga kembali menjadi lumbung pangan ASEAN.

 

Harusnya pasca Reformasi Demokrasi nya lebih bebas, lebih keren karena keterbukaan Informasi yang tidak terbendung. Hingga detik ini sila ke 5 Pancasila belum terpenuhi, yang terpenuhi baru Piramida teratas saja.

 

Mantan Ketum DPP KNPI memaparkan Data, GDP perkapita Indonesia adalah 4300 dollar alias 65 juta setahun atau 5,4 juta/bulan. Nilai itu tidak rata yang 10% pegang 70% harta dan yang 90 persen rebutan 30% harta tadi. Ada yang pendapatannya 200 juta dan ada yang nol pendapatannya dan bergantung pada orang lain.

 

Sebuah jurang kemiskinan yang sangat ekstrem. Jangan jangan dari 280 juta penduduk Indonesia yang punya Income hanya 25% saja alias 70 juta saja orang yang berpendapatan, yang 210 juta adalah orang yang numpang hidup dari 70 juta penduduk tadi. Atau satu orang yang kerja untuk menghidupi 4 orang dan apa yang terjadi kalau yang kerja 1 orang menghidupi 10 orang dan jika dihitung yang punya pendapatan hanya 28 juta manusia saja, berat lho ini.

 

Kapan Indonesia pendapatannya bisa 60.000 dollar/ tahun dan kapan. Kapan Pekerja buruh Indonesia, buruh kasar hidup di negara orang bisa jadi sultan.

 

Jadi, kekurangan yang ada hari ini harus kita perbaiki, saya sangat yakin Bangsa ini pasti bisa keluar dari permasalahan yang ada. Negeri yang di komandoi Bapak Ir. Joko Widodo pasti telah melakukan yang terbaik untuk Nusantara tercinta dan kami pemuda tidak akan pernah lelah memberikan sumbangsih untuk Negeri yang sangat kami cintai ini, tutup Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar.

ASW