Ketum DPP Bapera Singgung Soal Filosofi Ketupatnya Sunan Kalijaga dari makna Lebaran, Janur dan Turunannya

Halal Bi Halal menjadi budaya bangsa
Indonesia khususnya di bulan Syawal, kebiasaan indah ini harus dipelihara sebagai unsur landasan persatuan, Sunan Kalijaga mempromosikan hal tersebut yang mengartikan bahwa kita Manusia tak luput dari salah dan dosa. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444/2023 Mohon Maaf Lahir dan Batin

Fahd El Fouz A Rafiq
(Ketua Umum DPP BAPERA)

Jakarta–  Asal kata ketupat ? Kata tersebut sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia, yang berasal dari kata ngaku lepat (mengakui salah) dan memiliki arti lain yaitu <span;>laku papat yang merupakan 4 prilaku lebaran, luberan, laburan dan leburan, Ucap Fahd El Fouz A Rafiq di Jakarta pada Minggu, (23/4).

Ketua Umum DPP Bapera mengatakan, “Siapa yang membuat makanan bersimbol dan berfilosofi tersebut ? Ya, Sunan Kalijaga”, Ungkapnya. <span;>Raden Mas Sahid adalah salah satu 9 wali yang membuat simbol tersebut. Beliau membuat makanan yang kite kenal hingga saat ini yang bernama ketupat.

Mantan Ketum PP – AMPG ini melanjutkan, “Sunan Kalijaga (Raden mas Sahid) memperkenalkan ketupat secara tradisi sebagai bentuk akulturasi budaya. Jadi akulturasi budaya itu campuran dua budaya atau lebih yang saling mempengaruhi agar diterima menjadi budaya baru yang lebih cocok dengan kehidupan lokal, jelasnya.

Lebih lanjut Fahd menjabarkan ngaku lepet artinya mengakui kesalahan yang diwujudkan dengan tradisi sungkeman. Laku papat ada 4 makna yaitu lebaran artinya telah usai menjalankan ujian iman atau selesai puasa, luberan artinya luber berkelimpahan yang disimbolkan dengan berbagi zakat fitrah dan mal. Leburan artinya telah melebur semua dosa dengan puasa, laburan artinya melabur, membuang dan menutupi masa lalu yang sudah bersih tinggal terbang kedepannya, paparnya.

Sunan Kalijaga mengingatkan kalimat panjang filosofi Jawa pada makna kata ketupat yaitu “kiblat papat limo pancer” punya banyak arti salah satunya adalah 4 arah mata angin dan yang kelima bersatu pusat menuju Gusti Allah.

<span;>Jadi, kapan acara ketupatan tersebut dilaksanakan? yaitu ketika awal bulan Syawal (Sebulan setelah ramadhan penuh kita puasa) kembali fitrah suci diawal Syawal.

Lebih Lanjut mantan Ketum DPP KNPI bercerita, “Membuat ketupat menggunakan daun kelapa muda dikenal dengan sebutan daun Janur. Kata janur merupakan singkatan dari bahasa Arab ” Jaa a Al nur memiliki arti “telah datang cahaya hidayah”, ilahi. Daun Janur di rebus dan ketika di hidangkan seringnya dicampur dengan makanan yang dimasak dengan santan, seperti opor misalnya.

Lanjut Fahd, Kita dalami lagi santan atau santen itu menyimbolkan kata dalam bahasa Jawa ngapunten asalnya yang berarti minta maaf. Ketupat daun janur ini dianyam bersilang silang adalah simbol harapan penguatan jiwa dan raga, bersilang silang agar kuat yang kemudian di rebus yang nanti pada saat Syawal kita memakannya, kita potong dua, ditengahnya putih sebuah simbol sucinya iman yang telah dibersihkan selama Ramadhan, ujar pria yang suka akan Sejarah ini.

Karena itu semua makanan yang diciptakan para wali ada falsafahnya, bahkan sebelum puasa tradisi sesama tetangga kita saling memberikan kue Apem yang asal katanya adalah kata mafhum dari bahasa Arab yang artinya saling memahami dan diawal puasa masing masing memahami dirinya akan masuk ke bulan spiritual untuk kemudian meminta maaf dan izin dengan saling memberikan mafhum dan saling paham, tutur Putra pedangdut kondang A Rafiq.

Terakhir adalah kalimat, disaat lebaran yang dipopulerkan oleh bapak bangsa Indonesia yaitu Bung Karno. di tahun 1958 beliau mengucapkan kalimat MINAL AIDIN WALFAIDZIN” pada hari raya idul Fitri. Kalimat ini artinya bukan mohon maaf lahir dan batin namun artinya adalah semoga Allah menerima amalan amalan yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang orang yang kembali fitrah dan mendapatkan kemenangan”.

Dari ucapan bung Karno inilah minal Aidin walfaidzin pada hari raya idul Fitri menjadi kalimat wajib kaum muslimin di Indonesia dan populer sejak tahun diucapkan hingga saat ini.

Juga kalimat halal Bi halal yang juga telah menjadi bagian budaya kita di bulan Syawal, tidak cukup saling mengucapkan minal Aidin walfaidzin saja, kebiasaan indah terpelihara hingga saat ini tradisi Syawal  bersilaturahmi ke sesama handai taulan dan saudara, salam alaika, tutup Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar.

ASW